Inilah Ciri Ciri Rosulullah Shollolluhu ‘alaihi wa sallam

Anas bin malik ra berkata: “Abu Bakar as-Shiddik ra jika melihat Rasulullah saw datang, ia melantunkan sair:
Orang jujur, pilihan Allah, mengajak pada kebaikan
Habis gelap, terbitlah terang

Abu Hurairah ra berkata: Umar bin Khattab melantunkan syair Zuhair bin Abi Salma, (seorang Penyair Jahiliah) berisi tentang pujian pada Harim bin Sinan:
Andai boleh kuserupakan dengan benda
Kau adalah penerang di bulan purnama

Lalu Umar dan teman-teman duduknya berkata: “Itulah Rasulullah saw, tiada seorang pun menyerupainya”

Ali bin Abi Thalib berkata:
“Warna kulit Rasulullah saw putih kemerah-merahan; matanya sangat hitam; rambut dan jenggotnya sangat lebat; halus bulu dadanya; lehernya bagai teko dari perak; dari dada atas hingga pusarnya terdapat bulu yang memanjang seperti pedang, tidak terdapat bulu lain di perut dan dadanya selain itu; telapak tangan dan kakinya tebal;bila berjalan, melakukannya dengan cepat seakan-akan menuruni sebuah bukit; bila menoleh, menoleh dengan seluruh badannya; keringatnya bagai mutiara dan baunya lebih harum dari wangi minyak kasturi; tidak tinggi dan tidak pendek; tidak berkata buruk dan jahat; tak pernah aku menjumpai orang sepertinya.”

Dalam riwayat lain: “Di antara pundaknya terdapat tanda kenabian yang juga dimiliki nabi-nabi yang lain; sangat dermawan, pemaaf, jujur tutur katanya, menepati janji, lembut perangainya, mulia pergaulan, orang yang melihatnya pasti akan segan padanya, dan siapa yang bergaul dengannya pasti akan mencintainya. Yang pernah melihatnya mengatakan: tak pernah aku menjumpai orang sepertinya.”

Al-Barra’ bin Azib berkata: “Postur tubuh Rasulullah SAW sedang, dadanya bidang; rambutnya panjang hingga telinga bawah; aku melihatnya mengenakan pakaian merah, tak pernah kulihat orang setampan dia”

Ummu Ma’bad al Khuzai berkata: “Rasulullah SAW adalah sesosok lelaki yang tampan; bersinar wajahnya; baik akhlaknya; perutnya tidak gendut; tidak kecil kepalanya; hitam matanya sangat hitam; bulu matanya lebat dan lentik; suaranya berwibawa; lehernya bersih bersinar; jenggotnya lebat; alisnya tipis memanjang dan bersambung satu dengan yang lain; jika diam berwibawa; jika berbicara, tutur katanya indah; sedap dipandang dari jauh maupun dari dekat; manis bicaranya, jelas, tidak terlalu singkat dan tidak bertele-tele; bahkan seperti untaian mutiara. Postur tubuhnya sedang; tidak terlalu tinggi, atau terlalu pendek sehingga diremehkan orang lain, paling tampan diantara siapapun. Cabang diantara dua cabang; paling tampan diantara siapapun, dan terhormat. Dia memiliki para sahabat yang senantiasa bersamanya, mereka diam bila beliau berbicara, dan segera bergerak bila dia memerintahkan sesuatu. Dia tidak pernah terlihat cemberut atau menampakkan muka sebagai orang bodoh”.

Anas bin Malik al Anshari ra menyebutkan ciri-ciri Rasulullah saw dengan perkataannya: “Rasulullah saw perawakannya sedang. Tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek. Mukanya bercahaya tidak putih sekali dan tidak coklat. Rambutnya tidak keriting dan tidak lurus tetapi bergelombang.”

Hind bin Abi Halah berkata: “Rasulullah SAW mulia dan dimuliakan. Mukanya bersinar seperti bulan purnama. Lebih tinggi dari orang yang sedang tingginya dan lebih pendek dari orang yang jangkung. Kepalanya besar, rambutnya bergelombang, jika disisir akan tertata bagus jika dibiarkan rambutnya tidak melebihi daun telinganya. Mukanya bercahaya, keningnya lebar, alisnya tipis memanjang, lebat tidak menyambung, diantara alisnya urat yang mengeluarkan keringat ketika beliau marah. Hidungnya mancung bercahaya. Jenggotnya tebal. Hitam bola matanya sangat pekat. Pipinya rata dan halus. Mulutnya lebar, giginya putih bagus dan renggang. Memiliki bulu halus yang memanjang dari dada sampai pusar. Lehernya seperti leher boneka yang berkilau bagaikan perak. Perawakannya sedang, berbadan besar dan berisi, dada dan perutnya rata, dadanya bidang. Badannya putih terdapat bulu halus yang memanjang seperti garis dari dada sampai pusarnya, tidak terdapat bulu lain di dada dan perutnya selain itu. Tangan dan pundaknya berbulu lebat. Dadanya lebar, lengan tangannya panjang, telapak tangannya lebar. Kulit telapak tangan dan kakinya tebal. Jari-jarinya bagus, ruas jarinya lurus. Lekukan telapak kakinya dalam, bagian atas telapak kakinya sangat rata dan halus. Melangkah dan berjalan tidak cepat dan tidak pelan. Kadang berjalan cepat seakan-akan sedang menuruni bukit. Jika menoleh, menoleh dengan seluruh badannya. Selalu menundukkan pandangan, lebih sering memandang ke bawah dari pada ke atas, tatapannya lebih banyak tatapan yang memperhatikan. Menggiring para sahabatnya dan memulai salam kepada siapa saja yang ditemuinya

Komentar bertahan »

Tidur sianglah …..

Komentar bertahan »

Sudah benarkah cara anda berpakaian

Muqadimah
Pakaian sebagai kebutuhan primer kita sehari-hari sangat layak diperhatikan terlebih ketika kita menghadap Allah di dalam sholat. Kita diharuskan berpakaian bersih suci dari segala jenis najis dan menutup aurat. Permasalahan bersih dari najis, tentu kita sudah banyak yang memahaminya. Tetapi tentang menutup aurat? Seperti bagaimanakah pakaian yang seharusnya dikenakan di waktu sholat? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan kita kupas pada rubrik ahkam kali ini lewat tulisan Syaikh Masyhur Hasan Salman dalam sebuah karya beliau yang berjudul Al Qaulul Mubin fi Akhtha`il Mushallin (Keterangan yang jelas tentang kesalahan orang-orang yang sholat) yang diterbitkan oleh penerbit Dar Ibni Qayim, Arab Saudi hal 17-32. Beliau termasuk murid senior Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, pakar hadits abad ini yang karya-karyanya sudah beredar di seluruh dunia dan menjadi rujukan para thalibul ‘ilmi.

Tasyabuh dalam Berpakaian
Sebuah riwayat dalam Shahih Muslim disampaikan dengan sanadnya sampai kepada Abu Utsman An Nahdi, ia berkata, “Umar pernah mengirim surat kepada kami di Azerbaijan yang isinya: ‘Wahai Utbah bin Farqad! Jabatan itu bukan hasil jerih payahmu dan bukan pula jerih payah ayah dan ibumu. Karena itu kenyangkanlah kaum muslimin di negeri mereka dengan apa yang mengenyangkan di rumahmu[1], hindarilah bermewah-mewah, memakai pakaian ahli syirik dan memakai sutera.”
Dalam Musnad Ali bin Ja’ad ada tambahan, “…pakailah sarung, rida’ (jubah), dan sandal serta buanglah selop dan celana panjang… pakailah pakaian bapak kalian Ismail, hindarilah bernikmat-nikmat dan hindarilah pakaian orang-orang asing.” (Riwayat Ali bin Ja’ad dan Abu Uwanah dengan sanad shahih).
Waki’ dan Hanad meriwayatkan ucapan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu di dalam Az Zuhd, beliau berkata, “Pakaian tidak akan serupa hingga hati menjadi serupa.” (Sanadnya dha’if).
Ucapan beliau ini diambil dari sabda Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum itu.” (HSR Abu Dawud, Ahmad, dan selainnya).
Dari sinilah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu memerintahkan rakyatnya agar membuang selop dan celana panjang serta memerintahkan mereka mengenakan pakaian yang biasa dikenakan orang Arab, yaitu dengan tujuan memlihara kepribadian mereka agar jangan condong kepada orang-orang ‘ajam.
Perbuatan tasyabuh (dalam hal pakaian) yang dilakukan oleh umat ini kepada musuh-musuhnya merupakan tanda lemahnya iltizam mereka dan lemahnya akhlak mereka. Mereka telah ditimpa penyakit bunglon dan bimbang. Perjalanan mereka pun guncang seperti benda padat yang telah cair, siap dileburkan dalam berbagai bentuk di setiap waktu. Bagaimana pun juga tasyabuh ini merupakan penyakit yang jelek. Perumpamaannya seperti seorang yang menisbatkan dirinya kepada orang lain selain ayahnya. Mereka tidak disukai oleh umat yang melahirkan mereka, tidak pula diakui umat yang mereka tiru dan cintai.
Mungkin timbul pertanyaan: Kenapa para ulama tidak berupaya meluruskan kebiasaan atau adat ini sebelum menjadi perkara besar? Jawabannya: Sesungguhnya para ulama telah berupaya keras meluruskannya, akan tetapi dalam berhadapan dengan kenyataan bahwa yang mayoritas mengalahkan yang minoritas sehingga upaya para ulama tersebut tidak banyak memberikan hasil. Banyak dari kaum muslimin merasa pada posisi yang sulit di tengah-tengah adat dan pakaian kaum musyirikn padahal di antara mereka ada yang dikenal alim. Mereka inilah yang menjadi contoh jelek bagi kaum muslimin, wal ‘iyadzu billah.[2]
Lebih parah lagi di antara mereka ada yang meninggalkan shalat hanya karena khawatir pantalonnya berkerat-kerut hingga merusak penampilan. Hal ini banyak kita dengan dari mereka. Karena itu di antara upaya menghidangkan sunnah di hadapan umat, kami bawakan beberapa kriteria pakaian sholat yang sepatutnya diperhatikan seorang muslim supaya terhindar dari hal-hal tersebut di atas.
Pakaian dalam Sholat
Kriteria tersebut adalah:
1. Tidak ketat sehingga menggambarkan bentuk aurat.
mengenakan pakaian ketat jelas tidak disukai syariat dan kedokteran karena efeknya berbahaya bagi badan. Bahkan ada yang saking ketatnya hingga membuat pemakainya tidak dapat sujud. Bila karena mengenakannya seseorang meninggalkan sholat, maka jelas pakaian semacam ini haram. Dan memang kenyataan menunjjukkan bahwa mayoritas orang yang mengenakan pakaian semacam ini adalah orang-orang yang tidak sholat.
Demikian pula banyak di antara kaum muslimin di jaman ini yang menunaikan sholat dengan pakaian yang membentuk kedua kemaluan atau membentuk salah satunya. Al Hafizh Ibnu Hajar meceritakan sebuah riwayat dari Asyhab tentang seseorang yang sholat hanya dengan menggunakan celana panjang (tanpa ditutupi sarung atau jubah atau gamis), beliau berkata, “Hendaknya ia mengulangi sholatnya ketika itu juga kecuali bila celananya tebal.” Sedangkan sebagian ulama Hanafiyah memakruhkan hal itu. Padahal saat itu keadaan celana panjang mereka sangat longgar, lalu bagaimana dengan celana pantalon yang sangat sempit?!
Syaikh Al Albani berkata, “Celana pantalon mengandung dua cela.
Pertama, orang yang menggunakannya berarti bertasyabuh dengan kaum kafir. Pada mulanya kaum muslimin mengenakan celana panjang yang luas dan longgar yang sekarang masih digunakan oleh sebagian orang di Suriah dan Libanon. Mereka sama sekali tidak mengenal celana pantalon, kecuali setelah mereka ditaklukkan dan dijajah. Kemudian setelah kaum penjajah takluk dan mengundurkan diri mereka meninggalkan jejak yang buruk, lalu dengan kebodohan dan kejahilan kaum muslimin melestarikan peninggalan mereka tadi.
Kedua, celana pantalon dapat membentuk aurat, sedangkan aurat laki-laki adalah dari lutut hingga pusar. Ketika sholat seorang muslim seharusnya amat jauh dari keadaan bermaksiat kepada RabbNya, namun bagi mereka yang menggunakan celana pantalon, anda akan melihat kedua belahan pantatnya terbentuk, bahkan dapat membentuk apa yang ada di antara kedua pantatnya tersebut. Bagaimana muungkin orang yang dalam keadaannya semacam ini dikatakan sholat dan berdiri di hadapan Rabbul ‘Alamin?!
Anehnya banyak di antara pemuda muslim yang mengingkari wanita-wanita berpakaian ketat atau sempit karena membentuk bodinya sementara mereka sendiri lupa akan diri mereka. Mereka sendiri terjatuh pada hal yang diingkari, sebab tidak ada perbedaan antara wanita yang berpakaian sempit dan membentuk tubuhnya dengan pria yang memakai celana pantalon yang juga membentuk pantatnya. Pantat pria dan pantat wanita keduanya sama-sama aurat. Karena itu wajib bagi para pemuda untuk segera menyadari musibah yang telah melanda mereka kecuali orang yang dipelihara Allah, namun mereka sedikit[3].
Adapun bila celana pantalon tersebut luas, maka sah sholat dengannya. Namun akan lebih utama bila di atasnya ada gamis yang menutup antara pusar hingga lutut atau lebih rendah hingga pertengahan betis atau mata kaki. Yang demikian lebih sempurna dalam menutup aurat[4]. (Al Fatawa 1/69 oleh Syaikh bin Baz).

Komentar (3) »

Memakmurkan masjid

Untuk menggiatkan jama’ah masjid dan anggota masyarakat ada beberapa saran yang dapat dilakukan yaitu:

  1. Menyelenggarakan acara berbuka puasa bersama untuk seluruh jama’ah masjid dan masyarakat sekitar.

  2. Melontarkan ide i’tikaf di bulan Ramadhan sebagi tindak lanjut.

  3. Membuka perpustakaan umum di dalam masjid serta menyediakan ruang bacaan.

  4. Memperhatikan warga yang kesulitan dan sangat membutuhkan serta mengulurkan tangan untuk fakir miskin.

  5. Sebagai realisasinya diadakan dompet amal untuk menampung bantuan dari para donatur.

  6. Menganjurkan kepada masyarakat agar tidak melakukan pemborosan dalam acara atau pesta yang mereka selenggarakan. Dan sebaiknya jika ada dana yang berlebihan disalurkan untuk kepentingan dakwah dan kemanusiaan.

  7. Memberikan hadiah setiap jangka waktu tertentu berupa kaset dan buku-buku islam yang bermanfaat.

  8. Menganjurkan jamaah masjid agar berperan dalam amar ma’ruf nahi mungkar.

  9. Menyediakan kotak saran dimasjid agar para jama’ah dapat menyampaikan usulan, pertanyaan ataupun konsultasi.

  10. Menyediakan papan informasi di masjid dengan memperhatikan penataan, penerbitan serta rutinitasnya. Hendaknya dibagi menjadi kolom-kolom beragam misalnya tentang fatwa, pendidikan, kajian serta ruang informasi umum.

  11. Dianjurkan bagi pengurus masjid untuk berperan dalam mem-bantu jamaah dalam mengatur waktu misalnya dengan membuatkan jadwal harian seorang mulim serta mensosialisasikannya.

  12. Menyelenggarakan berbagai lomba dan kuis untuk menggugah minat serta menggiatkan anak-anak dan remaja agar aktif menelaah dan meneliti berbagai persoalan.

  13. Jika memungkinkan dapat membuka biro bimbingan haji dan umrah.


Disarikan dari kutaib “Risalatul Masjid”, karya Manshur bin Abdul Aziz Al Khuraiji, Darul Ma’arij Ad Dauliyah Riyadh. Sumber : alsofwah.or.id 

Komentar bertahan »

Nasehat bagi yang belum di karuniai buah hati

Nasehat bagi yang belum di karuniai keturunan

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Ada seorang lelaki yang belum dikaruniai anak. Ia sempat mengalami tekanan jiwa, namun tidak tahu apakah istrinya juga terkena beban pikiran atau tidak. Ia menghadapi sindiran dan celaan dari masyarakat sekitar, karena keterlambatan mendapatkan anak. Mereka anggap hal itu sebagai aib (kekurangan). Mohon kami diberi penjelasan dalam masalah ini, semoga Allah membalas kebaikan Syaikh.

Jawaban.
Janganlah anda berpikiran buruk lantaran belum dikaruniai anak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugrahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa yang dikehendakiNya), dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia dikehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa”[Asy-Syura : 49-50]

Allah Maha Mengetahui lagi Mahakuasa. Dialah yang menciptakan dan menentukan apa yang Dia kehendaki. Dalam ayat di atas, Allah memaparkan empat golongan manusia ditinjau dari sisi keturunan yang dikaruaniakan kepada mereka.

[1]. Allah mengaruniakan anak perempuan saja.

[2]. Allah mengaruniakan anak laki-lakai saja

[3]. Allah mengaruniakan anak laki-laki dan perempuan

[4]. Allah menjadikan seseorang mandul, tidak beranak.

Seluruh fenomena ini terjadi berdasarkan ilmu, hikmahNya dan kekuasaanNya. Bisa jadi keadaan anda akan normal sehingga anda akan mendapatkan seorang keturunan. Selama istri anda tidak menuntut apa-apa dari anda, maka janganlah bersedih hati karena hal tersebut. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan atas kesabarannya menemani hidup anda. Kita mohon kepada Allah, Yang Mahatinggi lagi Mahakuasa agar memberikan kepada kita semua taufik dan pahal. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan permintaan.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
http://www.almanhaj.or.id

Komentar bertahan »

surga bukan hanya untuk muslim

Bagaimana Caranya Kita Memahami Dua Ayat Yang Seolah-Olah Bertentangan ?

Surga Bukan Hanya untuk muslim “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” Dalam Surat Albaqoroh 2:56 secara tersurat bahwa allah akan membalas bagi setiap orang : mukmin, yahudi, nasroni, dan orang shabiin yang percaya kepada allah, hari kemudian, dan melakukan perbuatan amal sholeh akan mendapatkan pahala (jannah) yang tidak ada kekhawatiran dan bersedih hati,.. berarti jannah bukan hanya untuk muslim,..? apakah memang demikian, mohon dari beberapa ikhwan dapat mencerahkan akan hal ini, terima kasih

 Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya :

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an surat Al-Imran : 85 “Artinya : Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima” Sementara dalam surat Al-Maidah : 69 disebutkan. “Artinya : sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shabi’in, dan orang-rang Nasrani apabila mereka beriman kepada Allah dan hari akhir serta beramal shalih, maka tidak ada ketakutan dan kesedihan yang akan menimpa mereka” Bagaimana caranya kita memahami dua ayat yang seolah-olah bertentangan ini ? Jawaban. Tak ada pertentangan antara dua ayat tersebut. Ayat pertama Ali Imran : 85 berlaku bagi kaum yang telah sampai da’wah Islam kepada mereka, sedangkan ayat kedua Al-Ma’idah : 69 berlaku bagi kaum yang hidup pada zaman mereka masing-masing (dengan cara mengikuti syari’at dari nabi/rasul mereka masing-masing, -pent-). Adapun tentang shabi’in (shabi’ah) yang dikenal selama ini sebagai penyembah bintang, sebetulnya mereka dulunya adalah orang-orang yang bertauhid (dan mengikuti syari’at sebagian para rasul, -pent), akan tetapi setelah lewat masa yang panjang, sedikit demi sedikit mereka terjatuh ke dalam kemusyrikan dan akhirnya mereka menyembah bintang. Hal ini sama saja dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang hari ini juga semuanya sudah terjatuh dalam kemusyrikan. Nah… siapapun diantara mereka (shabi’ah, Yahudi , Nasrani) yang berpegang teguh dengan agamanya masing-masing dan mereka hidup sebelum datangnya Islam, maka mereka tidak akan ditimpa ketakutan dan kesedihan. Dan mereka adalah termasuk orang-orang yang beriman. Akan tetapi, setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dakwah Islam telah sampai kepada mereka, maka Allah tidak akan menerima agama mereka sebelum mereka masuk Islam. Adapun orang-orang yang sama sekali belum pernah mendengar dakwah Islam, maka orang seperti ini tidak akan langsung divonis masuk neraka oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang yang meninggal dalam keadaan belum pernah mendengar dakwah Islam sama sekali akan mendapat perlakuan khusus dari Allah di akhirat dengan mengutus seorang rasul kepada mereka. orang-orang ini akan diuji oleh Allah lewat rasul tersebut, seperti Allah telah menguji manusia di dunia. Apabila orang-orang tersebut menyambut seruan rasul dan mentaatinya maka dia akan dimasukkan ke dalam surga. Jika tidak, maka dia akan masuk neraka. [Ash-Shahihah No. 2468]

 [Disalin kitab Kaifa Yajibu 'Alaina Annufasirral Qur'anal Karim, edisi Indonesia Tanya Jawab Dalam Memahami Isi Al-Qur'an, Penulis Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, terbitan Pustaka At-Tauhid, penerjemah Abu Abdul Aziz]

Komentar bertahan »

Bolehkan mencabut Uban ???

Pertanyaan.
Apa hukumnya mencabut uban dan hukum mengubah warnanya
(menyemirnya)? Apa pula dalilnya ?
Sebab banyak juga temen-temen saya yang saya anggap pengetahuan agamanya bagus, tetapi rambutnya pada di cat.

Jawaban.
Mencabut uban hukumnya makruh (dibenci). Demikian pula mengubah
warnanya (menyemir) dengan warna hitam hukumnya makruh.

Adapun dalil larangan mencabut uban adalah sebuah hadits dari Amru
bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, bahwa Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Janganlah kalian mencabut uban karena uban itu cahaya
seorang muslim. Tidaklah seorang muslim tumbuh ubannya karena
(memikirkan) Islam malainkan Allah tulis untuknya (dengan sebab uban
tersebut) satu kebaikan, mengangkatnya (dengan sebab uban tersebut)
satu derajat, dan menghapus darinya (dengan sebab uban tersebut)
satu kesalahan” [Ahmad II/179, 210 -dan ini lafalnya, Abu Dawud No.
4202]

Begitu pula hadits dari Ka’ab bin Murrah Radhiyallahu ‘anhu bahwa
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Barangsiapa yang tumbuh ubannya karena (memikirkan)
Islan, maka pada hari kiamat nanti dia akan mendapatkan
cahaya”[Tirmidzi No. 1634 -dan ini lafalnya-, dan Nasa'i 3144 dengan
tambahan lafal 'fii sabilillah']

Adapun dalil kemakruhan mengubah warna uban dengan warna hitam
adalah berdasarkan hadits dari Jabir bin Abdullah
Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Pada hari ditaklukannya kota
Mekkah, Abu Quhafah (ayah Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu)
dibawa menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang
rambut kepalanya putih seperti kapas, maka Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Bawalah dia ke salah seorang isterinya agar mengubah
warna rambutnya dengan sesuatu (bahan pewarna) dan jauhilah warna
hitam”[Hadits Riwayat Jama'ah kecuali Bukhari dan Tirmidzi] [1]

Abu Dawud No. 4212 dan Nasa’i No. 5075 telah meriwayatkan sebuah
hadits dan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulllah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda.

“Artinya : Pada akhir zaman nanti akan ada suatu kaum yang menyemir
dengan warna hitam seperti arang. Mereka ini tidak akan mencium bau
harumnya surga”.

Adapun mengubah (menyemir) rambbut dengan inai dan katam [2] maka
hukumnya sunnah, dan tidak (memyemir) dengan tumbuhan waros dan
za’faron [3]. Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Dzar
Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya sebaik-baik bahan untuk mengubah (menyemir)
uban ini adalah inai dan katam” [Ahmad V/147, 150, 154, 156, 169.
Tirmidzi No. 1752. Abu Dawud No. 4205, Nasa'i No. 5062. Ibnu Majah
No. 3622]

Dan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Pernah ada
seorang laki-laki melewati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
sedang rambut ubannya disemir dengan inai, maka Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Betapa bagusnya ini”.

Ibnu Abbas berkata, kemudian laki-laki lain lewat sedang rambut
ubannya disemir dengan inai dan katam, maka Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Ini lebih baik dari yang tadi”.

Kemudian laki-laki lain lewat sedang rambut ubannya disemir dengan
warna kuning, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Ini adalah yang terbaik dari semuanya” [Abu Dawud No.
 4211, diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah No. 3627]

[Disalin dari kitab Al-As'ilah wa Ajwibah Al-Fiqhiyyah Al-Maqrunah
bi Al-Adillah Asy-Syar'iyyah jilid I, Disalin ulang dari Majalah
Fatawa 06/I/rabi'ul Awwal 1424H -2003M]
_________
Foote Note
[1] Lihat shahih Muslim No. 2102, Sunan Abu Dawud No. 4206, Sunan An-
Nasa’i No. 5076 dan 5242, Sunan Ibnu Majah 3642 dan Musnad Ahmad
III/316
[2] Sejenis tumbuhan yang menghasilkan waran kemerah-merahan atau
kekuning-kuningan, semacam pacar.
[3] Sejenis tumbuhan yang menghasilkan waran kemerahan atau
kekuningan.
Sumber :http://www.almanhaj.or.id

Komentar bertahan »

batuk

Beberapa hari ini (setelah pulang dari safar yang memakan waktu 2 hari) ana terserang penyakit batuk. Subhanalloh, ternyata penyakit batuk ini telah membuat ana sedikit kebingungan, soalnya kalo malem susah banget untuk tidur.
Ada apa sih sebenernya dengan penyakit yang satu ini ?

Keingintahuan tentang penyakit yang satu ini, ana melakukan perjalanan lagi di internet, melewati beberapa blog-blog temen. dan akhiernya terkumpul beberapa masukan tentang penyakit yang Alloh berikan ini.

Uhuk, …. Batuk
Batuk ternyata adalah fungsi pertahanan tubuh yang diciptakan Allah untuk manusia, dengan bentuk respon tubuh yang cepat ketika ada benda asing yang masuk ke tubuh, khususnya bagian tenggorokan. Karenanya batuk bisa terjadi dalam keadaan sehat, sehingga bisa dikatakan `batuk menyehatkan`, dan bisa dalam keadaan sakit yang karenanya `batuk itu menyakitkan`.

Pada hidung, tenggorokan dan organ tubuh manusia terdapat reseptor yang disebut mucus yang berfungsi menangkap zat-zat asing yang menginfeksi tubuh manusia. Reseptor ini diproduksi oleh sel-sel goblet (sedang ada project penelitian microbiology mengenai sel ini). Mucus memproduksi zat mucin dan beberapa zat yang mengandung garam. Salah satu jenis mucus adalah dahak (phlegm).

Jadi, ketika ada zat asing yang bisa muncul dari asap, bau yang tajam, debu, serbuk, kotoran yang terbawa angin, dll masuk ke hidung, mucus bekerja layaknya sebagai satpam dengan membuat perangkap berupa mucin untuk menangkap zat asing tadi. Perangkap tadi berfungsi ganda selain untuk menangkap musuh, juga untuk menjaga supaya lapisan di hidung tetap basah. Kalau kotorannya lolos sampai ke tengggorokan, dia ditahan dengan produksi dahak. Karena dahak berupa lendir yang menghambat nafas, maka batuklah kita buat mengeluarkan dahak tersebut sekaligus musuh tadi. Sayangnya musuh kadang-kadang sudah melepaskan senjata pamungkasnya waktu masuk ke tenggorokan, dan kebetulan satpam-satpam yang lain di dalam tubuh kita (antibodi) sedang letoy karena `gajinya`(baca = nutrisi) kurang. Akibatnya tubuh kita meriang, demam, kemudian disusul flu, pilek, dan batuk. Biasanya kita dianjurkan untuk minum vitamin C, makan buah dan sayur, minum air putih yang banyak.

Adapun dahak yang diproduksi di tenggorokan memiliki kandungan zat kimia yang bervariasi tergantung iklim, genetik dan kondisi sistem pertahanan tubuh. Umumnya berupa larutan kental yang mengandung gel yang merupakan larutan glicoprotein, imunoglobin, lipid, dll. Warna dahak mengindikasikan parahnya gejala penyakit batuk:
1. Dahak yang sehat warnanya bening atau putih
2. Dahak berwarna kuning pertanda gejala demam batuk pilek biasa
3. Dahak berwarna hijau pertanda adanya indikasi pneumonia
4. Dahak berwarna coklat pertanda perokok berat dan pebatuk berat (:D)
5. Dahak bercampur darah pertanda TBC

Di Jepang, saya belajar cara mencegah terkena infeksi virus atau bakteri, terutama ketika pergantian musim, atau terkena flu (kaze) yaitu dengan mencuci tangan (te o arau) dan mencuci tenggorokan (ugai). Mencuci tenggorokan maksudnya memasukkan air ke mulut kemudian mendongakkan kepala, sehingga air sampai ke tenggorokan, lalu mengeluarkan bunyi `goro-goro` di tenggorokan, air tidak ditelan tetapi segera dimuntahkan (Apa ya bahasa Indonesianya….???)

Maha Suci Allah yang sudah menciptakan sistem sesempurna ini, saya yakin hewan pun mempunyainya, cuma ….saya belum pernah melihat kucing batuk atau anjing ingusan.

sumber : http://alatsar.wordpress.com/2007/03/19/batuk-oh-batuk/

Komentar (1) »